Harapan Megawati ke Polisi Era Sekarang: Jalankan Tugas Bukan Hanya karena Ingin Naik Pangkat

Harapan Megawati ke Polisi Era Sekarang

Presiden ke-5 Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menginginkan polisi di era sekarang tidak hanya menjalankan tugasnya hanya karena ingin naik pangkat, namun betul-betul menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

“Yang saya inginkan juga dari Polri bukan hanya tugas rutin belaka, hanya karena ingin naik pangkat belaka,” katanya saat hadir dalam peluncuran buku ‘Dunia Hoegeng, 100 tahun Keteladanan’ secara virtual, Minggu, 7 November 2021.

Dalam kesempatan tersebut, Megawati juga mengenang sosok Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso sebagai Kapolri terbaik di era kemerdekaan.

Baca Juga: Perempuan Afghanistan Kembali Dibatasi, Taliban Larang Penerbangan Tanpa Pendamping Laki-laki

Hoegeng menurut Megawati merupakan sosok Kapolri yang sangat merakyat. Ia kemudian ingat sewaktu dirinya bertemu dengan Hoegeng Iman Santoso yang berangkat bekerja ke Mabes Polri dengan menggunakan sepeda.

Saat berpapasan dengan Hoegeng saat itu, Megawati menanyakan ke Jenderal Hoegeng alasan dirinya menggunakan sepeda.

“Om mau ke mana, saya manggilnya om, om masa Kapolri naik sepeda?” katanya.

Baca Juga: Sekjen PDIP Sebut Jenderal Hoegeng Iman Santoso Pemimpin dengan Gagasan Sederhana, tapi Langgeng

Lantas Mega menirukan jawaban Hoegeng, bahwa mantan Kapolri itu dengan sigap menjawab alasan mengapa dirinya menggunakan sepeda. “Ya biar saja ini kan sekalian berolahraga,” katanya.

Sosok Hoegeng Iman Santoso

Sejarah menuliskan pada 14 Oktober 1921 di Pekalongan lahir seorang putra bangsa yang mengabdi pada negara dengan kejujuran dan integritas tinggi, ia adalah Hoegeng Iman Santoso.

Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso adalah seorang Purnawirawan di Era Orde Baru masa pemerintahan Soeharto.

Semasa menjabat ia dikenal sebagai sosok teladan yang berpendirian teguh, menjunjung tinggi kejujuran, dan berintegritas.

Bahkan karena sikap mulianya ini, ia sampai disebut oleh Gus Dur seorang polisi jujur lewat kelakarnya. Pendapat Gus Dur, hanya ada tiga polisi yang jujur yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng.

Jenderal Hoegeng wafat di usia 84 tahun pada 14 Juli 2004 karena sakit stroke dan jantung yang dideritanya. Sebelum meninggal ia berwasiat jika tak ingin dikebumikan di Taman Makam Pahlawan.

Saat berusia enam tahun, Jendeal Hoegeng Iman Santoso mengenyam pendidikan di Sekolah Belanda (HIS) hingga berlanjut di Rechts Hoge School Batavia tahun 1940.

Jenderal Hoegeng juga sempat menjalani latihan militer Nippon (1942) dan Koto Keisatsu Ka I-Kai (1943) selama masa penjajahan Jepang.

Sedangkan perjalanan karir kepolisiannya bisa dibilang mulus, ia pernah mengemban tugas sebagai Wakil Kepala Polisi Seksi II Jomblang Semarang (1944), Kepala Polisi Jomblang (1945), dan Komandan Polisi Tentara Laut Jawa Tengah (1945-1946).

Kiprah atau karier dirinya sebagai polisi berawal dari menjabat sebagai Kepala DPKN Kantor Kepolisian Jawa Timur pada tahun 1952, selanjutnya ia berpindah ke Medan bagian Reserse Kriminal pada tahun 1956.

Sedangkan karier dirinya terus berlanjut sampai akhirnya pada 5 Mei 1968 dirinya diketahui diangkat sebagai Kepala Kepolisian Negara atau yang dikenal sebagai Kapolri. Dengan posisi tersebut dirinya berhasil mengubah birokrasi Polri menjadi lebih baik.

Demikian profil dari Jenderal Hoegeng Iman Santoso yang menolak untuk dimakamkan di Taman Pahlawan.

Tinggalkan Balasan