Perempuan Afghanistan Kembali Dibatasi, Taliban Larang Penerbangan Tanpa Pendamping Laki-laki

Perempuan Afghanistan Kembali Dibatasi

Taliban telah menduduki Afghanistan sejak kepergian tentara Amerika Serikat (AS) pada Agustus 2021 lalu, tetapi kebijakan mereka tentang perempuan masih amat tidak adil.

Para perempuan Afghanistan telah dinyatakan dilarang untuk menempuh pendidikan sekolah menengah, sebagaimana kebijakan Taliban beberapa waktu lalu yang mengejutkan banyak lembaga kemanusiaan dunia.

Masih terkait perempuan Afghanistan, kali ini Taliban menyatakan perempuan dilarang naik penerbangan domestik atau internasional tanpa pendamping laki-laki.

Baca Juga : Geger Isu Mbak You Masih Hidup dan Palsukan Kematiannya, Denny Darko: Kalau Mungkin…

Bahkan aturan baru terkait perempuan dilarang naik pesawat ini telah terbukti dengan kementerian penyebaran kebajikan dan pencegahan kejahatan mengirim surat kepada maskapai penerbangan setempat.

Seorang juru bicara pemerintah dari pihak Taliban menyatakan penjelasan aturan baru terkait pembatasan perempuan itu.

Dalam detailnya, dia menyebut bahwa perempuan yang bepergian ke luar negeri untuk belajar harus ditemani oleh kerabat laki-laki, sebagaimana dikutip mci-indonesia.id dari Independent.

Akibat aturan Taliban itu, pejabat maskapai setempat menyebut ada lusinan wanita yang gagal naik pesawat ke luar negeri karena mereka bepergian tanpa wali laki-laki.

Kemudian pernyataan pejabat maskapai itu didukung dengan seorang sumber yang tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan, menyebut perempuan tanpa pendamping telah ditolak di Bandara Kabul sejak akhir pekan ini.

Kendati demikian, masih belum jelas apakah pembatasan perjalanan udara untuk perempuan itu mendapat pengecualian, seperti keadaan darurat bisa dilonggarkan.

Kemudian, muncul juga pertanyaaan apakah itu berlaku untuk orang asing atau perempuan dengan kewarganegaraan ganda.

Sedangkan pihak AS yang mengamati lewat wakil khusus untuk Afghanistan, Thomas West menyebut keputusan itu sebagai pelanggaran kepercayaan rakyat.

Sementara itu, komunitas internasional masih belum mengakui pemerintah Afghanistan yang baru dalam pengaruh Taliban.

Bahkan, beberapa sanksi masih melumpuhkan perbankan negara itu, sekaligus menjerumuskan dalam krisis kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan