Membangun Kesadaran Masyarakat Indonesia agar Tak Membuang Puntung Rokok Sembarangan

Membangun Kesadaran Masyarakat Indonesia agar Tak Membuang Puntung Rokok Sembarangan

Sampah, terutama sampah plastik, masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan di Indonesia karena masih banyak dijumpai di sekitar kita.

Jenis sampah plastik yang perlu menjadi perhatian adalah puntung rokok, mengingat ujung filter rokok tersebut terbuat dari serat selulosa asetat yang termasuk kategori mikroplastik.

Selain itu, filter rokok mengandung berbagai zat beracun, di antaranya nikotin yang berbahaya bagi tanaman, hewan, dan makhluk hidup lainnya. Nikotin bahkan dikategorikan sebagai Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dalam sistem hukum Indonesia.

Sampah puntung rokok ini sering dianggap sepele oleh masyarakat Indonesia terutama oleh perokok yang tidak bertanggung jawab yang membuang sampah puntung rokok tidak pada tempatnya.

Pasalnya, mereka menganggap sampah puntung rokok akan terurai dengan sendirinya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, setidaknya dua pertiga puntung rokok dibuang secara sembarangan dan banyak ditemukan berserakan di trotoar atau selokan, hingga berujung di lautan.

Dibutuhkan kesadaran perokok untuk mengolah puntung rokok dengan benar agar tidak mencemari lingkungan.

Berdasarkan WHO Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) Global Studies di tahun 2018 menemukan fakta tentang sampah puntung rokok.

Mereka menemukan 4,5 triliun puntung rokok yang dibuang sembarangan dari sekitar 6 triliun rokok yang diisap setiap tahunnya. Jumlah ini setara 766,6 juta kg sampah puntung rokok.

Puntung rokok terdiri dari ribuan serat selulosa asetat yang dapat terurai secara biologis, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai.

Serat selulosa asetat, seperti mikroplastik lainnya, juga merupakan polutan umum yang ditemukan di ekosistem, bahkan terakumulasi di dasar laut dalam.

Beberapa bahan kimia dalam filter rokok bekas bahkan diketahui sebagai karsinogen, senyawa penyebab kanker.

Baca Juga: Ketika Ruben Onsu Dilarikan ke ICU dan Butuh Darah Cepat Tanpa Ditemani Sarwendah

Selain itu, sampah puntung rokok mengandung bahan beracun yang bisa mencemari tanah dan saluran air serta berdampak negatif pada organisme yang melakukan kontak dengan bahan-bahan tersebut.

Jika dibuang sembarangan dapat melepaskan mikroplastik, logam berat dan bahan kimia lainnya ke lingkungan. Satu puntung rokok dapat meracuni 1.000 liter air sehingga kandungan mikroplastik dalam puntung rokok dapat membahayakan kehidupan di laut.

Jika hewan terkontaminasi mikroplastik kemudian dikonsumsi oleh manusia, dapat membahayakan kesehatan, seperti perubahan genetik serta gangguan perkembangan otak dan pernapasan.

Sebaiknya puntung rokok yang merupakan limbah B3 ini dapat dikelola dengan baik oleh para perokok itu sendiri dan pelaku industri.

Aturan mengenai pengelolaan limbah B3 sudah tertuang di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan di Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 6 Tahun 2021 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

“Secara global, sampah rokok paling umum ditemukan di semua limbah, termasuk puntung rokok, nikotin, rokok elektrik semuanya mengandung bahan beracun dan mikroplastik,” kata Rudiger Krech Direktur Promosi Kesehatan WHO dikutip mci-indonesia.id dari laman Antara pada Minggu, 5 Juni 2022.

Tinggalkan Balasan